Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Desember 30, 2017

Tanah dan Emas, Sekelumit Hikmah

INSPIRASI

Al-Kisah...
Sebongkah EMAS bertemu dengan sebongkah TANAH .

• EMAS BERKATA pada tanah, “Coba lihat pada dirimu, suram dan lemah, apakah engkau memiliki cahaya mengkilat seperti aku.......?
Apakah engkau berharga seperti aku....... ?”

• TANAH menggelengkan kepala dan menjawab, “Aku bisa menumbuhkan bunga dan buah, bisa menumbuhkan rumput dan pohon, bisa menumbuhkan tanaman dan banyak yg lain, apakah kamu bisa....... ?”

Emas pun terdiam seribu bahasa......

Dalam hidup ini banyak orang yang seperti emas, berharga, menyilaukan tetapi kurang bermanfaat bagi sesama atau sama sekali takbermanafaat.

Sukses dlm karir, rupawan dlm paras, tapi sukar membantu apalagi peduli.

Tapi ada juga yg seperti tanah. Posisi biasa saja, bersahaja namun ringan tangan siap membantu kapanpun, siapapun dan dimanapun.

*_Makna dari kehidupan bukan terletak pada seberapa bernilainya diri kita, tetapi seberapa besar bermanfaatnya kita bagi orang lain._*

*_Jika keberadaan kita dapat menjadi berkah bagi banyak orang, barulah kita benar- benar bernilai._*

Apalah gunanya kesuksesan bila itu tidak membawa manfaat bagi lingkungan sekitar kita.

Apalah arti kemakmuran bila  tidak berbagi pada yg membutuhkan.

Apalah arti kepintaran/ kepandaian bila tidak memberi inspirasi di sekeliling kita.

Karena hidup adalah proses, ada saatnya kita memberi dan ada saatnya kita menerima.

Semoga Bermanfaat..!!!

~Broadcash Group WA

©2017, Ahad Des 3017 19:17

Jumat, Desember 29, 2017

Rahmatan Lil'alamin

AGAMA BUKAN SUMBER KONFLIK,  TETAPI SUMBER KEDAMAIAN
Oleh: Ahmad Ishomuddin

Di dunia ini telah nyata ada banyak keragaman agama sehingga tidak usah mati-matian menyeragamkannya menjadi satu agama saja. Betapa pun sudah malang melintang menghabiskan keseluruhan umur di medan dakwah,  tetap saja pasti gagal dan mustahil menyatukan seluruh manusia untuk beragama Islam atau lainnya. Sesungguhnya penentu jalan petunjuk (hidayah) itu merupakan hak mutlak Sang Pencipta.

Perbedaan itu sunnatullah, keragaman itu kenyataan yang tidak bisa diingkari oleh setiap orang yang berakal sehat. Dunia ini justru terlihat indah dan lebih indah karena warna-warninya yang serasi. Hanya mereka yang melihat dunia dalam warna hitam putih saja yang terkaget-kaget melihat kenyataan bahwa dunia ini ternyata berwarna-warni, memiliki keragaman  warna. Panorama alam indah yang sedap dipandang mata pun wujudnya dapat dinikmati karena keragaman warnanya.

Setiap agama yang benar mengajarkan kedamaian, sedangkan setiap orang yang benar-benar beragama selalu ingin  meraih suasana hati yang tenteram, tenang dan hidup yang damai. Beragama dengan sebenarnya berarti ingin selamat dengan cara menjadi bagian dari keseluruhan hidup yang damai.

Saat agama justru mengilhami penganutnya untuk menciptakan yang sebaliknya, menyeret pemeluknya dalam kegaduhan sosial, kerusuhan atau pertumpahan darah (perang), maka pasti ada yang keliru dalam memahami maksud agama. Sebab, agama diturunkan untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghindarkan para hamba dari setiap kemafsadatan.

Manusia yang beragama dengan benar harus mencapai suatu keyakinan bahwa kemaslahatan, kebajikan atau apa saja yang bermanfaat harus diraih dan tidak boleh diabaikan, sedangkan setiap apa yang mafsadah (merusak), keburukan, kejahatan atau apa saja yang merugikan wajib dihindari dan tidak boleh mendekatinya. Agaknya butuh kecerdasan lebih dalam menjalani hidup bersama dalam keragaman itu karena akal manusia beragama dituntut untuk mampu membedakan bagian mana yang mashlahat  (baik, bermanfaat) dari yang sebaliknya, yakni mafsadah  (kerusakan, kejahatan, dan apa saja yang sia-sia).

Kelanggengan substansi ajaran agama itu tergantung kepada pencapaian tujuan yang bersifat umum, seperti pemeliharaan dan kepatuhan kepada aturan hidup manusia secara kolektif, peraihan kebajikan, penghindaran terhadap setiap kerusakan, memperjuangkan kesetaraan dan menegakkan keadilan di antara manusia. Keberlangsungan ajaran agama juga sangat tergantung kepada pencapaian tujuan yang bersifat spesifik seperti untuk mewujudkan sebuah keluarga diperlukan mekanisme akad perkawinan yang sah dan untuk menghindarkan bahaya yang berkepanjangan dalam sebuah keluarga diberlakukan dan dibolehkan menempuh langkah perceraian. Jadi, kesemuanya itu tiada lain kecuali untuk mewujudkan kehidupan yang tenteram dan damai.

Dengan kalimat lain dapat dinyatakan, bahwa agama diadakan dan dianut pada dasarnya agar manusianya memakmurkan bumi, memelihara aturan hidup bersama di muka bumi ini, melanggengkan kemaslahatan penghuninya, melaksanakan apa saja yang dibebankan berupa penegakan keadilan, istiqamah  (konsisten) dalam kebajikan, pencerdasan akal dan peningkatan amal, mewujudkan perdamaian, menggali berbagai kekayaannya serta mengatur berbagai manfaat demi kepentingan bersama.

Adapun  jika yang terjadi dari para penganut agama adalah sebaliknya dari apa yang telah disebutkan di atas, berarti ada kesalahan dalam memahami substansi yang ditujukan dari agama dan berarti ada krisis yang parah dan salah menempuh jalan dari para penganut agama.

Dalam beragama ada lima kebutuhan mutlak yang tidak boleh tidak harus dicapai oleh para penganutnya, yaitu perlindungan terhadap agama, jiwa, keturunan, harta dan akal. Selain kelima kebutuhan mutlak tersebut manusia beragama juga wajib berusaha agar mencapai kelapangan hidup dan terhindar dari kesulitan, meski ketiadaannya  tidak mengakibatkan terjadinya kerusakan yang bersifat umum dan bahaya yang parah. Lagi-lagi kesemuanya itu dalam rangka untuk meraih kualitas hidup yang manusiawi, lebih  bermartabat dan damai.

Sesat jalanlah jika karena beragama justru seseorang atau suatu komunitas  itu keluar dari keadilan menuju diskriminasi dan penindasan, minggat dari rasa kasih sayang menuju kebencian berlebihan, permusuhan dan pertumpahan darah, dari kebaikan menuju kejahatan, dan dari kebijaksanaan mengarah kepada kesia-siaan.

Sangat memprihatinkan seperti kini yang sedang marak banyak anak muda terjebak dalam intoleransi, radikalisme hingga terorisme yang ajarannya adalah  "dari pengkafiran menuju pengeboman",  sedangkan agama Islam sendiri sama sekali tidak pernah mengajarkannya. Mereka tersesat jalan dan menyesatkan banyak manusia lainnya dalam memahami dan menerapkan ayat-ayat al-Qur'an bukan pada tempat yang semestinya,  misalnya ayat-ayat tentang jihad karena tidak memahami konteks yang dan menerapkannya dalam suasana damai.

Sudah saatnya setiap orang beragama, apa pun agama yang dianutnya, berperan aktif dalam menciptakan suasana kehidupan dunia yang lebih manusiawi, beradab, penuh kepedulian, cinta kasih, harmonis dan lebih damai. Dalam upaya mencapai hal yang universal tersebut para penganut agama berbeda  dapat bekerjasama sesuai kesepakatan, sedangkan dalam hal-hal yang "terpaksa" berbeda sangat mungkin untuk saling berdialog dengan mengedepankan kesantunan dalam mencari titik kesepahaman dan jika tidak, maka tiada jalan lain kecuali bersikap tasamuh (toleransi), yakni saling menghormati karena sepakat untuk tidak sepakat.

Kita harus sepakat bahwa agama tidak mengajarkan kekerasan dan sikap berlebihan  (melampaui batas), sedangkan kekerasan meskipun atas nama agama bukanlah bagian integral dari agama. Dengan demikian, kaum beragama tidak diperkenankan menjadikan agama sebagai sumber dan penyebab konflik, pertikaian dan pertumpahan darah (perang), melainkan sebagai sumber kasih sayang, keharmonisan dan kedamaian.

Kota Gudeg, Yogyakarta:
Kamis, 21 Desember 2017

©2017 FB

Minggu, Oktober 22, 2017

Cerita Hikmah ; "Reaksi Kita"


Pelihara diri kita dari amarah

=============================

Seorang anak sedang diantar sekolah oleh bapaknya naik motor. Di perjalanan, mereka disalip sebuah mobil secara ugal-ugalan. Si anak langsung marah-marah dan mengajak bapaknya mengejar mobil tersebut untuk memarahinya.

Si bapak dengan tenang menjawab: "Untuk apa marah-marah, menghabiskan energi saja."

Si anak berkata: "Tapi dia kan sudah membahayakan kita, Pak."

"Lho, kan kita tidak kenapa-kenapa?", sahut si bapak.

"Ya, supaya dia tahu aja dan tidak mengulangi lagi", si anak masih penasaran.

"Bapak yakin dia tahu perbuatannya, barangkali dia sedang buru-buru mengejar sesuatu."

"Sekarang bayangkan kalau hatimu sedang senang, karena punya uang banyak atau teman yang kamu taksir menitip salam kepadamu, kira-kira kalau kamu disalip seperti tadi, kamu akan marah-marah juga 'gak?", tanya si bapak.


"Hmm, kayaknya enggak sih", jawab si anak sambil senyum-senyum.

"Nah, kenapa kita harus bereaksi marah kalau melihat orang berlaku tidak menyenangkan kepada kita?"

"Apa kita tidak bisa memilih reaksi yang lain, misalnya senyum-senyum seperti kamu barusan?"

"Bisa sih, Pak."

"Jadi, semua terserah kamu, mau memilih reaksi yang mana ketika melihat aksi orang lain terhadapmu."

Pesan bapak, jangan biarkan reaksimu DIKENDALIKAN oleh aksi orang lain. Kita bebas memilih reaksi kita sendiri. Pilihlah yang paling bermanfaat bagi dirimu."

"Baik, Pak", kata si anak sambil cium tangan bapaknya karena mereka sudah tiba di gerbang sekolah.

               ~Bc Wag

© 2018 Mei-14 00:33 update :


Minggu, September 17, 2017

Resep Minuman Awet Muda


Banyak diantara kita menginginkan selalu agar tetap awet muda. Bahakan jika memungkinkan muda selamanya. Wek wek wek...

Banyak cara untuk tetap nampak terlihat awet muda. Selain banyak tertawa, menanamkan jiwa humoris, menghidupkan solat malam dan masih banyak lagi cara manusia mencapai "kemudaan".

Pada dasarnya jiwa mudalah yang menciptakan penampakan awet muda pada diri seseorang. Seberapa tuapun usia individu tersebut.

~iS


Berikut resep  awet muda, mudah dan cepat tanpa efek samping yang membahayakan jiwa dan raga. Cekedot.



      Bahan :

1. 10 Lembar Daun Sirsak
2. 5 cm Jahe
3. 50 ml Sari Apel
4. 1 Sendok Teh Madu Asli
5. 2 Sendok Makan Air Jeruk Nipis.

      Cara Membuat :
Rebus Daun Sirsak Dengan 2 Gelas Air sampai mendidih. Kemudian Air Rebusannya ditambahkan Jahe, Sari Apel, Madu Dan Jeruk Nipis.
Aduk Sampai Merata Dan Siap Diminum.

      Cara Minumnya :
Diminum Saat masih SMA... 

.....😛😛😜

Source : Broadcash Wahtsapp group

krik krik krik krik..... 


---------------------------------
© 2017 Sept-17 16:39



Selasa, Desember 27, 2016

Maria Ozawa, Syahwat, Nafsu dan Amarah

HITAM PUTIH IBLIS DI DALAM DIRI

Apa Anda bisa menilai Maria Ozawa sebagai pecinta? Iklan filmnya selalu bertema "love", tapi hakikatnya sama sekali tidak ada cinta dalam film-filmnya. Film-filmnya murni nafsu kemarahan dan caci-maki.

Kalau Anda sedang marah pada seseorang, kepuasan diri Anda tentu dengan mencaci-maki, mengamuk dan luapan amarah lainnya. Jadi cacu-maki, mengamuk,  banting ini dan itu, pukul sana-sini semata-mata luapan nafsu amarah. Ketika Anda sedang syahwat, luapan kepuasannya dengan mesra, memuaskan kebirahian Anda. Dengan caci-maki, birahi sama posisinya sebagai bentuk pemuasan kepentingan diri, sehingga birahi semata-mata nafsu amarah yang diluapkan kepada orang lain.

Karena ini, buaya darat, cewek cabe-cabean, apalagi bintang porno seperti Maria Ozawa, selalu dapat caci-maki masyarakat karena memang perbuatan itu bentuk lain nafsu amarah. Maria Ozawa sama sekali bukan pecinta, dia semata-mata pemarah.

Karena amarah, mudah sekali bagi Anda menggunakan link birahi untuk mencapai segala kepentingan dunia. Lihat saja Maria Ozawa, nekat jadi artis porno, hanya modal nikmat, esek-esek di depan kamera shooting, popularitasnya mendaki langit, duitnya mengalir deras. Tidak perlu ketrampilan khusus, keilmuan khusus apalagi ijazah tinggi, sangat mudah Anda peroleh segala kepentingan dunia dengan birahi.

Anda tilik akun-akun provokatif yang istiqamah mengakses dedikasi kontroversi SARA, kintroversi debat, kontroversi amarah, time line-nya selalu ramai follow. Dengan link amarah, popularitas mudah sekali Anda capai. Popularitas mudah tercapai rejeki ikut.

Rejeki pun dengan memakai link amarah bukan sesuatu yang sulit. Cukup ambil tuyul, duit mengalir. Cukup ngepet, duit menumpuk. Todong dan rampok harta orang, duit ada. Pasang togel, sambil dugem pun duit penuh. Mudah sekali, bukan?

Segala link keduniawian dengan nafsu amarah semudah membalikkan telapak tangan perolehnya.

Nafsu amarah berhubungan dengan karakter api, iblis. Jadi iblis sebenarnya pusat segala kemudahan dunia.

Lalu kenapa Anda banyak yang susah di dunia ini? Penderitaan bertubi-tubi? Itu karena alam semesta masih menilai Anda sebagai makhluk spiritual. Makhluk yang jiwanya suci dari amarah.

Di dalam spiritual segala hal berkenaan dengan amarah ditolak keras. Anda mencuri saja, tangan dan kakinya gemetaran, hati dag dig der. Anda selingkuh tengok kanan-kiri, tidak tenang, takut ketahuan orang. Anda terbuka auratnya di depan umum, Anda spontan beringsutan, bahkan perempuan bisa menangis pilu setengah pingsan ketika dia diintip saat mandi. Ini karena di dalam diri Anda terpasang baham baku spiritual, bahan baku Allah S.W.T.

Spiritual inilah yang menarik Anda dengan kuat untuk selalu menghindari amarah. Ingin duit, tidak berani mencuri, ingin ngeseks dengan pacar, tidak berani dengan ancaman dosanya, ingin memaki-maki tidak berani dengan resiko keburukannya. Segala keinginan duniawi Anda terhambat oleh bahan baku spiritual Anda sendiri. Di dalam spiritual suhu dingin dan sejuk, karena ini disebut nafsu muthmainnah.

Anda makhluk dengan dua dimensi sekaligus, amarah dan muthmainnah, dua nafsu ini bersarang di dalam diri Anda. Nafsu amarah itu unsur api, nafsu muthmainnah itu unsur air. Tidak berimbang salah satunya, Anda tidak harmoni, bahkan mungkin binasa.

Marah-marah dan birahi melulu, Anda terbakar. Kalem dan sejuk melulu, Anda membeku kedinginan.

Jadi, bagi Anda yang sudah populer atau kaya raya atau berstatus sosial tinggi, tetapi hidupnya resah, gundah, dan stres, itu artinya Anda kurang mengakses spiritual.

Dan jika Anda sudah bekerja belasan tahun, nasibnya begitu-begitu saja,  sudah cari jodoh bolak-balik tidak nemu-nemu, sudah berkarir puluhan tahun, karir tidak naik-naik, itu artinya ada unsur api di dalam diri Anda yang kurang menyala-nyala. Katakanlah kekurangan  iblis, sehingga Anda beku tidak hangat.

Tahun lalu saya mendengarkan ceramah seorang kyai, dia menerangkan penjelasan Imam Ghazali--yang saya tidak tahu dinukil dari buku apa--bahwa ciri anak-anak yang bisa menjadi pemimpin;

Pertama dia quwwatusy syahwat (kuat syahwatnya) artinya birahinya liar. Unsur api birahinya kuat, karena birahi sebenarnya kekuatan untuk mengikat orang lain untuk melayani dirinya. Maka ini, para tokoh dan pemimpin banyak yang suka poligami. Para nabi rata-rata berpoligami, Nabi Daud hingga 100 istri, Nabi Sulaiman hingga 1000 istri.

Kedua, cirinya quwwatul ghadhab (kuat temperamennya), anaknya nakal, tidak mau kalah, ugal-ugalan, galak, masa kecilnya dilalui dengan antagonisme. Karena dengan temperamen tinggi, seseorang ditakuti, bisa memengaruhi dan bisa mengendalikan orang lain. Preman ditakuti dan mudah saja mengendalikan orang lain, karena dia ghadhab (temperamennya) tinggi. Nabi Ibrahim masih remaja sudah berani menghancurkan patung-patung dewa, ini karena ghadhab-nya kuat.

Ketiga, cirinya quwwatul 'ilmi, artinya ilmu dan hikmah hidupnya besar, sehingga syahwat dan ghadhab-nya yang kuat, dikendalikan oleh ilmu dan kebijaksanaan hatinya. Dengan begitu dia di depan dalam kepemimpinan dan spiritual.

Itu semua berarti pemimpin kuat sebenarnya punya unsur iblis (syahwat dan ghadhab) yang kuat, unsur apinya diberi suhu lebih panas dari lazimnya, dan unsur airnya atau unsur spiritualnya juga diberi lebih banyak, sehingga pemimpin punya dominasi iblis dan spiritual yang dosisnya lebih tinggi. Dia mendidihnya pun lebih panas.

© 2016 Facebook.com, Des-2716 21:35.
*Salin-tempel dari akun yang namanya tertera pada gambar, dengan penamaan judul yang berbeda.

:)

Selasa, Desember 06, 2016

Delapan Rizki Berdasarkan Kitabullah

DELAPAN MACAM REZEKI

1. Rezeki Yang Telah Dijamin

"Tidak ada satu mahluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin Allah rezekinya"
(Q.S.11:6)

Contoh : Meskipun seorang anak yatim piatu tidak memiliki orangtua, namun ia akan tetap hidup sampai besar dirawat panti asuhan atau diadop oleh keluarga lain

2. Rezeki Karena Usaha

"Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya" (Q.S.53:39)

Contoh : Karena keuletan dalam usaha, kini bangsa Turki bisa makmur, padahal alamnya tidak begitu kaya.

3. Rezeki Karena Bersyukur

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu" (Q.S.14:7)

Contoh : Brunei Darusalam baru-baru ini menerapkan syariat islam sebagai rasa syukur kepada Allah atas nikmatNya, maka mereka kini menemukan ladang gas baru kapasitas miliaran kubik.

4. Rezeki Tak Terduga

"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya"
(QS. At Thalaq :2)

Contoh : Karena ketaqwaan penduduk Mekkah dan Madinah, siapa sangka minyak dan gas berada dibawah tanah Hijaz (Arab Saudi).

5. Rezeki Karena Istighfar

"Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta” (QS. 71 : 10-11)

Contoh : Kaum Nabi Yunus, setelah mereka bertobat maka Allah karuniakan kemakmuran bagi mereka sampai 40 tahun, riwayat lain mengatakan 80 tahun lamanya.

6. Rezeki Karena Menikah

"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kemapanan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. an-Nur : 32)

Contoh : Ketika masih bujangan, Abdurrahman bin Auf r.a hanya seorang penjual tali, namun setelah menikah ia menjadi pengusaha besar owner pasar Madinah.

7. Rezeki Karena Anak

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.” (QS. al-Isra 31)

Contoh : Yakub waktu mudanya hijrah dari rumahnya dan menjadi pengembala kambing, setelah menikah dan memiliki 12 anak, justru kambing-kambingnya juga makin bertambah banyak.

8. Rezeki Karena Sedekah

"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak" (QS. Al Baqarah 245)

Contoh :  kedermawanan Utsman bin Affan r.a hingga kini masih ada warisannya dan tabungannya masih tersimpan di no.rekening Bank syariah Arab Saudi a.n. Utsman bin Affan

SEMOGA BERMANFAAT 🙏🙏

--------------------------------------
sumber :
©2016 Group WhatsApp Des-06 16:33

Sabtu, November 26, 2016

Kisah Sehelai Daun

** Kisah sehelai daun **

Pada sebatang pohon kecil, hiduplah beberapa daun yang tumbuh bersama. Diantara daun-daun tersebut terdapat sebuah daun yang sangat besar dan kuat. Daun itu diagung-agungkan karena kekuatannya. Dialah yang dianggap pelindung bagi daun-daun lainnya dari badai, hujan, panas matahari yang terik, dan bahaya lainnya.

Suatu ketika datanglah musim kemarau yang panjang. Daun-daun di pohon kecil itu mulai layu karena tidak mendapat air dan makanan. Daun besar yang tadinya kuat dan besar mulai terlihat keriput. Ia berusaha melindungi daun-daun lainnya dari matahari yang bersinar sangat terik sehingga daun2 sahabatnya itu tidak kehilangan air lebih banyak lagi. Hari berganti hari, daun besar itu sudah sampai pada puncak usahanya. Ia mulai sobek-sobek sehingga sinar matahari mulai menembusnya. Ia mulai kehilangan kekuatannya dan daun-daun lainnya pun sudah mulai mengabaikannya karena ia tidak kuat lagi seperti dulu.

Beberapa hari kemudian daun besar itu merasa tidak kuat lagi akhirnya ia berkata kepada teman-temannya : Teman-teman aku tidak lagi mempunyai kekuatan untuk melindungi kalian, aku akan gugur. Selamat tinggal. Setelah berkata demikian akhirnya daun besar itu pun gugurlah.

Musim kemarau terus berlanjut, daun-daun di pohon kecil itu saling bertahan untuk hidup. Mereka sama sekali sudah melupakan daun besar yang telah berjasa melindungi mereka sehingga mereka dapat bertahan sampai sekarang.

Musim kemarau tidak juga berakhir. Daun-daun di pohon kecil itu sudah mulai kehilangan harapan. Mereka merasa sangat kelaparan, kehausan dan akan mati. Di saat mereka putus asa, tiba tiba dirasakan adanya air dan makanan dari tanah. Mereka terheran-heran akan adanya keajaiban itu. Setelah lama mencari-cari, mereka menyadarinya. Mereka melihat bahwa daun besar itu sudah membusuk dan menghasilkan air dan sari makanan bagi mereka. Akhirnya dengan air dan sari makanan dari daun besar tadi, daun daun di pohon kecil itu berhasil bertahan sampai musim hujan datang.

Daun-daun di pohon kecil itu sangat menyesal karena telah melupakan daun besar itu. Padahal sampai akhir hayatnya daun besar itu tetap menjadi pahlawan bagi daun-daun lainnya.

Renungan bagi kita, Janganlah menilai seseorang dengan penampilan dan kekuatannya. Allah memberikan bantuan kepada kita melalui siapa saja bahkan melalui orang yang kita anggap telah jatuh dan hina. Ingatlah rencana Allah itu ajaib dan tidak pandang bulu terhadap semua hambanya.

(Sumber : Forum Dudung net)
~Disalin tempel dari Facebook

©2016 Nov 26 21:11

Sabtu, Oktober 15, 2016

Anak dan Orangtua

Pohon dan Anak

Ada pohon besar di dalam hutan dengan batang yang tebal, banyak dahan besar, dan berdaun rimbun. Seorang anak yang kesepian datang ke pohon itu untuk bermain.

Anak itu membayangkan ia mendengar pohon itu berkata ramah kepadanya, “Ayo panjatlah aku. Bangunlah rumah bermain kecil di atas sini. Kamu boleh menggunakan dahan kecilku jika kamu mau, juga daunku yang berlimpah.” Maka anak itu memanjat pohon itu, mematahkan beberapa ranting, mengambil dedaunan, dan membuat rumah rahasia yang tinggi di pohon itu. Meski itu menyakiti pohon, namun pohon itu bahagia berkorban sedikit untuk melihat anak itu mendapatkan begitu banyak kesenangan. Selama hari-hari yang panjang, anak itu akan bermain di dalam rumah pohon. Pohon itu puas.

Ketika anak itu tumbuh lebih dewasa, ia berhenti bermain di pohon itu. Pohon itu menjadi sedih, rantingnya merunduk dan deadunannya kehilangan kilaunya.

Selang beberapa tahun, anak yang kini remaja itu kembali.  Pohon itu kegirangan melihatnya lagi. Pemuda itu merasa ia mendengar pohon itu berkata, “Ayo panjatlah aku lagi. Rumah pohon lamamu masih di sini. Aku merindukanmu.”

“Kini aku terlalu tua untuk bermain rumah pohon,’ pikir remaja itu. “Aku ingin kuliah tapi aku terlalu miskin.”

“Tidak masalah,’ pohon itu tampaknya berkata, “Kembalilah seminggu lagi. Aku akan mengeluarkan buah. Aku akan hasilkan ekstra. Silakan panen semua buahku dan juallah untuk membayar biaya kuliahmu.”

Maka anak itu kembali tujuh hari kemudian. Pohon itu dipenuhi buah ranum. Anak itu mengambil semuanya sampai buah yang terkahir, menjualnya, dan cukup untuk biaya kuliah satu tahun. Pohon itu sangat bahagia.

Anak itu kembali selama tiga tahun berikutnya, mengambil setiap buahnya dan menjualnya untuk memenuhi biayanya. Pohon itu gembira. Pohon itu bahkan kelihatannya berusaha lebih keras tiap tahunnya untuk menghasilkan lebih banyak buah untuk sahabatnya, meskipun ini membuat pohon itu kelelahan dan makin sakit.

Ketika anak itu lulus, ia berhenti datang. Pohon itu sedih lagi. Beberapa tahun kemudian, anak itu, kini menjadi pemuda, kembali. Ia memiliki kesan yang sangat jelas bahwa pohon tua itu menangis kegirangan melihatnya lagi. “Tunggu beberapa hari lagi. Walau aku kini agak lemah, aku masih bisa menghasilkan banyak buah agar kamu jual untuk biaya kuliahmu.”

“Aku tidak kuliah lagi,” kata pemuda itu, “aku sudah punya pekerjaan. Aku sudah jatuh cinta dan ingin menikah, namun kami membutuhkan rumah untuk ditinggali.”

“Tidak masalsah,” pohon itu agaknya berkata, “kembalilah besok dengan gergaji. Ambil dahan tebalku. Itu bisa untuk membuat papan lantai dan tiang yang kuat. Bahkan ada cukup kayu untuk membuat dindingnya. Gunakan dahan kecil dan daun besar untuk atapnya. Ada banyak.”

Demikianlah, hari berikutnya, pemuda itu mengambil seluruh dahan dan daun untuk membuat rumahnya, menyisakan hanya batangnya. Meski itu melukai pohon itu dengan parah, pohon itu bahagia membuat pengorbanan besar untuk seseorang yang dicintainya.

Selama bertahun-tahun, anak itu tidak pernah kembali. Pohon itu bergantung pada kenangan bahagianya untuk mempertahankan hidupnya.

Kala anak itu datang lagi, kini menjadi pria setengah baya, pohon itu nyaris melompat keluar dari tanah dengan sukacita. “Selamat datang! Sungguh bahagia melihatmu lagi!” Bahkan kali ini burung-burung pun bisa mendengar pohon itu. “Apa yang bisa kulakukan untukmu? Mohon izinkan aku membantu.”

“Aku kini punya anak,” jawab pria itu, “dan aku ingin memulai usaha perabotanku sendiri untuk mendapat cukup uang untuk memberi mereka kehidupan yang baik.”

“Bagus sekali,” kata pohon tua itu, “meski kamu mungkin berpikir aku cuma tunggul tua, ada banyak kayu indah dalam batangku untuk membuat banyak perabot mahal. Ambillah. Aku akan bahagia jika kamu ambil semua.”

Maka pria itu datang esoknya, menebang batang pohon itu dan mendapat cukup banyak kayu kelas satu untuk memulai usaha perabotannya.

Tak lama setelahnya, pohon itu mati.

Bertahun-tahun kemudian, anak itu, kini telah menjadi orangtua, mengunjungi tempat dimana pohon yang sehat itu pernah berdiri, tempat ia membangun rumah pohon semasa ia kecil, yang selalu begitu dermawan kepadanya. Yang tersisa hanyalah akar yang melapuk. Orang tua itu membaringkan kepalanya di atas akar-akar itu sejenak. Akar itu jauh lebih nyaman daripada bantal bulu. Ia ingat dengan berurai air mata bagaimana pohon itu telah menolongnya, tanpa bertanya, tiap kali ia membutuhkan pertolongan. Bagaimana pohon itu mengorbankan segalanya untuknya, dan bahagia melakukannya setiap saat. Ia pu tertidur.

""Ketika ia bangun dari mimpi itu, ia menyadari bahwa pohon itu adalah orangtuanya.""

Like n Share 

( Source =  https://iphincow.com/2016/02/01/pohon-dan-anak/ )

~Salintempel: LINE


Akhlak yang Mulia

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ﺇِﻧَّﻤَﺎﺑُﻌِﺜْﺖُ ﻟِﺄُﺗَﻤِّﻢَ ﺻَﺎﻟِﺢَ ﺍﻟْﺄَﺧْﻠَﺎﻕِ “Sesungguhnya aku hanya diutus untuk meny...